THINK GLOBALLY ACT LOCALLY
+62 21 2923 6777

Publication

The Premium Property Buka Kantor Di Jaksel | Property & Bank

11 Januari 2016

The Premium Property didirikan oleh Bintang Sitompul dan Yuliarta Sianturi pada tahun 2011 lalu, awal tahun 2016 ini membuka kantor baru di Jalan KH Ahmad Dahlan No. 45 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Kantor baru ini terletak di lokasi strategis Kebayoran Baru yang aksesnya sangat dekat ke Pondok Indah, Kebayoran Baru & SCBD area.

Peresmian kantor dilakukan oleh Principal The Properium Property, Yuliarta Sianturi (Artha) pada hari Senin 11 Januari 2016 dengan mengusung konsep “we are closer to our customers”. Tahun ini The Premium Property tetap fokus menggarap segmen properti primer & sekunder di wilayah Jakarta serta segmen properti komersial  seperti land-banking dan recurring-asset seperti hotel, rumah sakit, mall di seluruh Indonesia.

Sumber : http://propertidata.com/berita/the-premium-property-buka-kantor-di-jaksel


Pionir SOHO di Kawasan Kemang │ Property-In.co 

23 November 2015

Di tengah munculnya kebutuhan akan hunian sekaligus tempat bekerja, Naya Village hadir membawa konsep yang unik dan tepat di lokasi strategis.

Sejak lama kawasan Kemang, Jakarta Selatan, terkenal sebagai salah satu tempat favorit untuk hunian maupun kantor. Selain didukung lokasi yang mudah diakses, lingkungannya pun terbilang teduh dan nyaman. Kawasan ini juga berkembang menjadi pusat lifestyle dan komersial incaran kalangan menengah-atas. Tak heran jika kemudian harga properti di Kemang terus naik dari tahun ke tahun.

Menariknya, pembangunan properti di Kemang kini mulai didominasi oleh bangunan vertikal dengan beberapa tipe pengembangan sesuai dengan lokasi dan peruntukan yang berlaku. Oleh karena itu, beberapa pengembang di sana mulai menawarkan konsep SOHO (Small Office Home Office). Konsep ini diawali dengan latar belakang minimnya lahan serta kian melambungnya harga properti.

Ya, konsep SOHO—yang menggabungkan hunian dan kantor dalam satu tempat—memang semakin dilirik, baik oleh pengembang ataupun konsumen. Kelebihan konsep ini ialah mampu mengakomodir hunian yang layak sekaligus dapat dipakai bekerja dan menerima tamu bisnis. Potensi inilah yang kemudian diusung oleh The Premium Property dalam menggarap Naya Village di kawasan Kemang Selatan.

Menurut Yuliarta Sianturi, Direktur The Premiun Property, kawasan sekitar Jalan TB Simatupang, Ampera, dan Kemang memerlukan tempat usaha yang juga bisa berfungsi sebagai hunian. “Untuk itu, dengan lahan 2.000 meter persegi, kami menyediakan 13 unit SOHO dengan desain yang unik dari sisi fungsi maupun tampilan,” ujarnya.

Ditambahkan Artha, sapaan akrab Yuliarta, segmen yang dibidik Naya Village adalah kalangan pebisnis menengah-atas. Jika melihat kebutuhan di segmen tersebut, jelas sekali bahwa mereka membutuhkan properti multifungsi—khususnya di daerah Jakarta Selatan. Dengan konsep unik tersebut, Naya Village diyakini mampu menjanjikan return berupa capital gain dan penghasilan sewa yang menarik bagi para investor.

Jika ditelisik lebih jauh, konsep SOHO memang masih terbilang baru di Indonesia. Namun, beberapa pendapat memprediksi bahwa konsep unik tersebut akan menjadi tren pada 2015. Tak heran jika kemudian The Premium Property melalui Naya Village mengklaim sebagai pionir dalam mengembangkan konsep ini di kawasan Kemang. “Konsep SOHO yang kami usung akan menjadi tren hunian sekitar 2-3 tahun mendatang,” kata Bintang Sitompul, Founder dan CEO The Premium Property.

Naya Village menawarkan 2 tipe pilihan SOHO: tipe A dan tipe B dengan luas bangunan sekitar 300 meter persegi. Tipe A memiliki keunggulan berupa letaknya yang menghadap dua muka—depan dan belakang. Umumnya, tipe A bisa digunakan sebagai hunian dan semi usaha. Sedangkan tipe B, menawarkan konsep yang lebih privat karena terletak di bagian belakang dan sangat cocok untuk hunian.

“Konsep ini sangat tepat bagi profesional muda yang mapan. Tak hanya sebagai tempat tinggal tapi juga dapat menampung jumlah karyawan skala kecil,“ jelas Artha. “Kami juga mewadahi kebutuhan akan garasi mobil yang mampu menampung empat mobil sekaligus dalam satu unit. Kemudian, ada juga jalan pribadi yang bisa digunakan.”

Kelebihan berikutnya, jarak antara bangunan satu dengan yang lain terbilang cukup lebar—memungkinkan untuk membuat taman kecil atau menjadi area bermain anak. Ini masih ditambah lagi dengan lebar jalan sekitar 6 meter dan adanya sistem keamanan terpadu agar setiap penghuni merasa aman dan nyaman.

Selain menawarkan bangunan dengan 3 lantai, Naya Village juga memungkinkan adanya renovasi tambahan berupa penyediaan lantai mezzanine sesuai permintaan. Desainnya bukan hanya menampilkan sisi artistik, tapi juga memperhitungkan sisi fungsi dalam setiap area yang ada. Artha kerap memastikan setiap material bahan yang digunakan dalam pengembangan Naya Village merupakan kualitas terbaik.

Menyinggung soal capital gain, Artha enggan mengungkapkan berapa estimasi harga Naya Village dalam 1-2 tahun ke depan. Hanya saja, dia menerangkan bahwa yang menjadi fokus The Premium Property saat ini adalah mengutamakan dan mengembangkan nama baik perusahaan sebagai pengembang properti premium—salah satunya mengusung konsep SOHO. Tak hanya itu, Artha juga ingin proyek yang dibangun dapat terkenal karena desain unik, lokasi strategis, dan berkualitas.

Bintang menambahkan, sejauh ini animo konsumen terhadap Naya Village bagus. Paling tidak ini bisa dilihat dari beberapa unit yang sudah terjual. “Kami  menawarkannya melalui worth of mouth ke beberapa konsumen lama.

Bisa dibilang, strategi marketing kami dalam memasarkan Naya Village terkesan soft selling karena memang konsep hunian seperti ini dipastikan laris manis,” ujar Bintang sembari mengungkapkan mereka bakal membangun proyek serupa di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. –  Fisamawati

Sumber : http://www.property-in.co/pionir-soho-di-kawasan-kemang/


Berhenti "Ngantor", Artha Capai Kebebasan Finansial Lewat Bisnis Property | Kompas

8 Agustus 2015

YULIARTA Sianturi, Co-Founder, The Premium Property (konsultan dan pengembang properti) dan Direktur PT Bangun Multikreasi Selaras (perusahaan furnitur), pada awalnya arsitek di salah satu perusahaan pengembang terkemuka di Indonesia. Lulusan Teknik Arsitektur Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, ini menangani sejumlah proyek besar di Jakarta. Namun, pada suatu hari pada saat Artha-nama panggilannya-hamil tujuh bulan, suaminya, Bintang Sitompul, terbaring di rumah sakit selama hampir dua bulan karena sakit di bagian pencernaannya yang tak kunjung sembuh.

Dalam kondisi hamil anak keduanya, Artha setiap hari Senin sampai Sabtu naik kereta rel listrik dari Bintaro ke kantornya di kawasan Jakarta Kota. Dia juga harus memikirkan pengobatan suaminya yang sakit keras dan berpikir bagaimana melunasi biaya rumah sakit.

Pada saat itulah Artha berpikir ada yang salah dalam hidupnya. Selama ini dia sibuk mengejar karier untuk menjadi arsitek yang top. Karya-karya arsiteknya antara lain ITC Fatmawati Jakarta, Kota Bunga Cipanas, Four Season Plaza Batam, Wisma Eka Jiwa, Borobudur Intercontinental Hotel Jakarta, rumah mewah di Pantai Indah Kapuk, Cirendeu dan Pondok Indah Jakarta.

Dia menghadiri rapat-rapat penting agar proyek properti yang dikerjakan cepat selesai. Tetapi, ketika suaminya jatuh sakit, dia harus memilih, merawat suaminya yang tak kunjung sembuh atau tetap menghadiri rapat-rapat di kantor? Dia tak mungkin tidak masuk kantor setiap hari karena perusahaannya juga membutuhkan tenaga dan pikirannya. Namun, suaminya yang terbaring lemah lebih membutuhkan perhatiannya. Dia merasa Tuhan menegurnya.

Artha bertanya dalam hatinya, apakah ada cara lain di luar bekerja “9 to 5”? Artha belum punya role model yang bisa dicontoh dalam keluarga besarnya karena latar belakang keluarganya dan keluarga suaminya semua bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Ayahnya PNS di Kejaksaan, sedangkan ayah mertua PNS dan ibu mertuanya guru bahasa Indonesia. “Bapak dan ibu berpesan agar anak-anaknya menjadi PNS. Hanya saya yang menjadi arsitek di perusahaan swasta, tetapi belum ada yang bekerja di perusahaan swasta atau menjadi wirausaha,” ceritanya.

Setelah baca “Rich Dad Poor Dad”

Perempuan kelahiran Tondano, 9 Juli 1969, itu tidak putus asa. Dia sudah terbiasa hidup mandiri. Ketika kuliah di UGM Yogyakarta, perempuan yang belajar piano sejak kelas 6 SD itu pernah membuka les piano untuk mendapatkan tambahan uang kuliah. Setelah menikah dan bekerja, perjalanan hidup tidak selalu mulus. Tetapi, Artha menghadapi masa-masa sulit itu dengan mengikuti berbagai seminar dan membaca banyak buku, di antaranya buku Robert Kiyosaki, “Rich Dad Poor Dad”.

Selain itu, dia mencoba bisnis sendiri mulai dari agen asuransi, MLM, hingga bermain saham. Setelah 11 tahun bekerja di perusahaan properti, pada 2003 Artha akhirnya memutuskan untuk keluar dan menjadi agen properti di kawasan elite Pondok Indah. Artha diajak teman kuliahnya, Thomas Sugiarto, untuk bergabung di waralaba miliknya, Century 21. Saat itu kantor tersebut adalah kantor cabang pertama di Indonesia yang berlokasi di Pondok Indah.

Selama beberapa tahun Artha meraih prestasi sebagai top agent, pemasar properti yang sukses di tingkat nasional. Dia selalu masuk dalam Top Agent Based on Commision, bahkan mencapai peringkat 5 besar nasional dari 2.000 agen properti di seluruh Indonesia.

Sejak itu, dia makin memahami seluk-beluk investasi properti berkelas dan bernilai arsitektur tinggi. “Padahal, saya tidak pernah berpikir terjun dalam dunia marketing. Saya berpikir profesi arsitek lebih bergengsi dibandingkan dengan marketer. Dalam pikiran saya sebelumnya, bekerja di dunia marketing adalah pilihan ke-1.000,” ungkapnya. Hal ini juga didasari karena Artha merasa dirinya tidak pintar bicara dan lebih suka menggeluti hal-hal teknis bangunan.

Namun, setelah bergelut dalam dunia properti, relasi Artha makin banyak, mulai dari pengusaha, politikus, artis, pejabat, sampai yang lainnya. “Bisnis properti adalah bisnis silaturahmi,” katanya. Bisnis properti, kata Artha, bukan sekadar menjual rumah.

“Saya harus menjaga kepercayaan klien. Saya tak pernah melakukan mark-updan mendapat komisi sesuai ketentuan,” ujarnya. “Ternyata ilmu marketingbukan soal bakat, tetapi suatu hal yang bisa dipelajari asal ada kemauan. Buktinya saya yang tidak pintar bicara bisa berhasil di bidang Marketing. Teman-teman kuliah dan teman kerja yang mengenal saya dulu sebagai seorang arsitek yang pendiam sangat heran dengan perubahan saya sekarang….”

Pada 2009, Artha dan suaminya yang pernah menempuh studi di University of California Los Angeles (UCLA) berangkat ke Beverly Hills, California, Amerika Serikat. Dia bertemu beberapa agen properti top di dunia dan belajar dari mereka. Artha juga meneliti psikologi para investor properti. Bagi sebagian orang, properti ibarat barang koleksi yang mencerminkan pribadi penghuninya. Karena itu, sebagian orang rela membayar harga untuk mendapatkan lokasi dan desain terbaik properti pilihannya.

Buka usaha sendiri

Ketika menjadi pemasar properti, dia mendapat pelajaran terbaik segala sesuatu tentang properti. Dia mengasah kepekaan dan kejeliannya menilai properti serta melihat potensinya. Artha banyak belajar dari pengusaha dan investor, bagaimana mengelola risiko, mengelola uang dari lembaga pembiayaan. Klien-kliennya merupakan guru yang terbaik. Mereka dengan senang hati membagi kiat-kiat yang tidak pernah diajarkan di mana pun.

“Suatu hari saya harus menjadi investor dan pengembang properti juga,” begitu tekadnya. “Selain itu, saya ingin membantu banyak orang untuk berani mengubah kehidupannya jadi lebih baik dengan menjadi seorang pemasar properti yang profesional” ujarnya.

Berbekal pengalamannya, pada 2011 Artha berani mengembangkan perusahaan sendiri, The Premium Property, dan sesuai namanya, menyasar kelas premium (niche market), yang belum banyak disentuh agen-agen properti lain. Perusahaannya memasarkan properti premium, mulai dari gedung perkantoran, rumah, pusat perbelanjaan, hotel, rumah sakit, sampai bank tanah. Artha juga terkadang menangani properti orang-orang Indonesia yang tinggal di luar negeri dengan bermitra dengan Southebys Realty di San Francisco dan mitra lain di Los Angeles.

“Para investor dan pembeli kami adalah orang-orang yang kami kenal secara personal,” kata Artha yang mengaku tidak terlalu sering beriklan karena modal utamanya adalah kepercayaan dan memahami analisis-teknis karena menyangkut privasi. Saat ini beberapa anggota tim marketing yang telah dirintis sejak awal telah membuktikan menjadi pemasar properti yang andal. Hal ini terbukti dengan perusahaannya telah meraih penghargaan Forward Thinker Company tingkat nasional dari salah satu situs properti terbesar di Indonesia pada Mei lalu.

Sebagai investor properti, Artha memulainya tahun 2006 sejak masih menjadi agen properti dengan berinvestasi di sebuah rumah kecil di Bintaro dengan pinjaman bank. Rumah itu direnovasi lalu sempat disewakan dan dijual kembali. Hal itu dilakukan terus-menerus sampai 2011. Beberapa rumah di Bintaro yang dibeli adalah rumah tua dengan kondisi memprihatinkan. Tetapi, Artha merenovasi total rumah-rumah tersebut sampai detail-detailnya dengan kualitas bangunan tinggi dengan model tropis minimalis yang punya keunikan/desainnya tidak pasaran sehingga mudah menarik minat pembeli karena relatif tidak banyak pesaing.

Setelah itu, Artha memberanikan diri mulai berinvestasi beberapa rumah di kawasan elite Pondok Indah, Kebayoran Baru, dan Kemang, beberapa di antaranya direnovasi dan dijual kembali, tetapi beberapa yang lain menjadi portofolio investasi pribadi yang menghasilkan passive income. Beberapa rumah yang dimiliki kini ada yang menjadi rumah kos, ada juga yang disewakan ke ekspatriat. Kini The Premium Property berpartner dengan seorang pengusaha dari daerah menjadi pengembang Naya Town House di kawasan Kemang Selatan. Artha juga mengembangkan proyek baru town house di Pondok Indah yang akan dibangun pada semester kedua 2015 ini.

“Banyak klien saya termotivasi berinvestasi di bidang properti setelah melihat contoh nyata pengalaman saya sebagai agen properti mereka. Meski dengan modal sangat terbatas, bahkan dengan pinjaman bank, jika dikelola dengan baik, bisnis properti sangat menjanjikan,” kata Artha. Beberapa kliennya bahkan menawarkan tanah milik mereka untuk diolah dan dimaksimalkan potensinya dengan sistem kerja sama atau bagi hasil.

“Saya terlibat langsung dalam pencarian lahan, pembuatan konsep dan desain, sampai strategi pemasaran. Latar belakang saya sebagai arsitek sangat membantu usaha ini. Saya harus punya kemampuan analisis finansial dan mengelola risiko, bukan sekadar berjualan dan harus tahu pasarnya siapa,” kata ibu dari Nadya Naulita (19) dan Raissa Cristabel (15) itu.

Artha membuktikan bahwa modal bukan hal utama dalam bisnis properti, tetapi harus dibarengi kerja keras, integritas, dan kejujuran, serta relasi yang luas. “Siapa pun bisa sukses asal dibekali niat baik, ketulusan, kejujuran, pengetahuan memadai, dan yang terpenting berserah kepada Tuhan,” kata Artha yang rutin bermain piano dan saat ini Artha juga memulai belajar bermain Cello sebagai bagian dari kegiatan pelayanannya. Dia mempunyai prinsip tidak ada kata-kata terlambat untuk mempelajari sesuatu yang baru, apalagi bertujuan untuk memuliakan Tuhan.

Perjalanan hidup yang diwarnai kesulitan telah menempa Artha menjadi perempuan tangguh dan berani. Ia pun dengan senang hati membagikan pengalamannya kepada siapa saja yang ingin mengubah kehidupannya menjadi lebih baik. Keberaniannya mengambil keputusan untuk mengubah jalan hidupnya pada saat-saat sulit, dan membuatnya berpikir ulang tentang pekerjaannya sebagai arsitek di perusahaan pengembang, telah mengantarnya menjadi wirausaha properti yang berhasil.

Sumber : http://print.kompas.com/baca/2015/08/08/Berhenti-Jadi-Pegawai-Kantoran%2c-Artha-Capai-Kebeba


Naya Village: Kompleks SOHO Modern di Kawasan Kemang | Rumah123

10 April 2014

Tren SOHO atau Small Office Home Office begitu marak. Beberapa pengembang mulai membangun proyek SOHO di hampir sudut kawasan Jakarta. Memang kelebihan proyek SOHO menggabung hunian dan kantor dalam satu tempat. Konsep ini menawarkan pola kerja yang lebih fleksibe;, sehingga Anda tetap dapat bermain bersama sang buah hati.

Salah satu pengembang The Premium Property membangun konsep SOHO dengan proyeknya Naya Village @Kemang. Memang kawasan ini dikenal sebagai tempat para perusahaan yang bergerak di bidang energi, art studio dan kreatif.

Menurut Yuliarta Sianturi, Pendiri sekaligus Direktur The Premium Property, di kawasan sekitar Jalan T.B Simatupang, Ampera dan Kemang memerlukan tempat usaha yang bisa digunakan juga sebagai tempat tinggal  yang unik dan kompak baik dari segi fungsi maupun desainnya. “Dengan desain unik yang akan menyasar segmen middle-class business, Naya Village @Kemang berdiri diatas lahan 2000 meter persegi yang terdiri dari 13 unit SOHO ekslusif dengan desain modern minimalis,” jelas Artha—panggilan akrabnya—kepada Rumah123.com pada saat Ground Breaking Naya Village @Kemang (2/4).

Lebih lanjut Artha mengungkapkan kebutuhan akan properti yang multi-fungsi dan compact saat ini masih sangat dibutuhkan khususnya di Jakarta Selatan seiring dengan tumbuhnya perekonomian Indonesia saat ini. “Dengan konsep unik yang diusung dan lokasi strategis yang dimiliki Naya Village, proyek ini menjanjikan capital gain & return sewa yang menarik bagi para investornya,” tambahnya yang telah berpengalaman lebih dari  20 tahun berkecimpung di bidang konsultan properti.

The Premium Property merupakan salah satu konsultan properti yang fokus melayani konsultasi jual beli dan sewa properti premium di Jakarta dan Bali. Saat ini The Premium Property banyak melayani jual-beli dan sewa properti premium di kawasan Pondok Indah, Kebayoran Baru, Permata Hijau, Kemang dan Bali. Dengan latar belakang sebagai  konsultan properti yang fokus pada segmen properti premium tersebut, saat ini The Premium Property & konsorsium mengembangkan lini usahanya dengan menjadi pengembang properti yang proyek pertamanya Naya Village @Kemang.

Sumber : http://www.rumah123.com/artikel/naya-village-kompleks-soho-modern-di-kawasan-kemang-17163


Ini Bisnis kepercayaan Sekaligus Silaturahmi | Rumah123

9 Oktober 2013

Agent property satu ini dikenal sebagai spesialis properti premium di Jakarta Selatan. Bahkan beberapa wilayah elit di Jakarta dan Bali pun kini dalam genggamannya.


Gurihnya bisnis properti di Indonesia yang kian menarik, rupanya telah menarik perhatian lebih bagi agent satu ini. The Premium Property fokus menangani property premium dengan segmentasi property kelas atas yang meliputi rumah mewah, hotel, office tower, maupun land bank yang terus dicari oleh para developer dan yang saat ini jumlahnya semakin terbatas.

Sebagai anggota AREBI dan KADIN, pihaknya mengerti betul bagaimana menjalankan kode etik berbisnis yang profesional. Bagaimana merawat hubungan bisnis yang baik antar investor, end user dan bahkan pemilik properti.
“Saat ini kami memang fokus membidik wilayah Kebayoran Baru, Senayan, Kemang, Cipete, Pondok Indah, TB Simatupang dan Menteng. Bahkan properti di wilayah Bali seperti Jimbaran, Seminyak, Pecatu dan Tanjung Benoa coba kami pasarkan,” ungkap Bintang Sitompul, Founder and CEO PT. Bangun Multimedia Solusi, perusahaan yang didirikannya pada tahun 2011 yang bergerak di bidang developer dan konsultan property & infrastruktur yang membawahi The Premium Property.

“Bagi kami, ini adalah bisnis kepercayaan sekaligus silaturahmi yang baik. Karena itu, jaringan bisnis ini harus kami jaga dengan ketulusan hati, profesionalisme yang tinggi dan saling mengerti,” urai Bintang.
“Dalam pemasaran properti premium memerlukan kemampuan analisa pasar, relasi yang luas dan integritas yang tinggi. Pengalaman berkarir selama 20 tahun di bidang marketing menjadi kekuatan kami untuk masuk ke bisnis property ini,” kupas Bintang yang sebelumnya telah berkarir di PT. Indosat dengan jabatan terakhir sebagai VP Marketing.

Hal serupa juga diucapkan oleh Yuliarta Sianturi (Artha), Direktur The Premium Property. “Keunikan kami adalah latar belakang saya sebagai seorang arsitek ditambah kemampuan melakukan feasibility study, menyusun business plan dan pemasaran untuk memberikan nilai ROI yang menarik bagi investor,” terangnya.
“Untuk itulah sejak tahun 2012, kami melakukan transformasi menjadi developer property. Saat ini kami sedang mengembangkan small office home office (soho) di Kemang dan premium townhouses di Pondok Indah” tambah Artha.

Artha dikenal sebagai konsultan properti bertangan dingin, pada awalnya Ia bergabung dengan Century 21 Thomas Mitra di Pondok Indah sejak tahun 1994, selama itu pula ia pernah berkali-kali menjadi Top Agent Nasional Century 21. Transaksinya meliputi premium house di Bukit Golf Pondok Indah, Office Tower di Senayan, TB Simatupang dan lain-lain.
“Ini bisnis jangka panjang yang menjanjikan bagi kami. Bisnis yang mengedepankan silaturahmi, bukan sekedar seberapa besar nilainya. Ini bisnis yang harus dilakukan dengan ketulusan hati,” ungkap wanita yang telah 11 tahun berkarir sebagai arsitek senior di sebuah perusahaan developer terkemuka.

URL: http://www.rumah123.com/detil-rekomendasi-kami-16491-ini-bisnis-kepercayaan-sekaligus-silaturahmi-id.html


Testimoni Principal The Premium Property - Yuliartha Sianturi di Rumah123.com | youtube


Berkarya bagi kalangan atas

Sinar Harapan – Timeline Photos | Facebook

 

 

Property Search

ID Listing